🌷 Ayah Bunda, setiap hari kita berbicara dan bersuara. Sadarkah bahwa isi kalimat kita bahkan intonasi suara kita mempengaruhi emosi, kenyamanan bahkan perkembangan fisik anak kita? Mari kita belajar dari kisah berikut.
– Masaru Emoto, seorang peneliti asal Jepang menemukan sungai yang sangat bau. Bau tersebut sangat menyengat sehingga mengganggu warga sekitar. Akhirnya dia mengundang para pemuka agama untuk berdoa di pinggir sungai tersebut. Doa itu pasti disampaikan dengan intonasi lembut, isi kalimat yang baik, memuji Sang pencipta, memohon dengan sepenuh ketundukan. Apa yang terjadi? Masyaallah.. setelah beberapa saat diperdengarkan doa, bau menyengat itu pelan- pelan menghilang. Tanpa dikasih obat dan tindakan. Hanya dengan doa.

– Seorang petani lele di daerah Boyolali sangat sedih karena anak-anak lele miliknya banyak yang mati. Penyebabnya tetangga sebelah akhir-akhir ini sering bertengkar. Suara mereka mengganggu anak-anak lele itu sehingga mereka stress. Dan akhirnya mati. Ya.. anak lele itu mati karena stress mendengar suara- suara teriakan dan pertengkaran tetangga sebelah. Akhirnya anak lele yang masih hidup dipindah ke belakang rumah yang jauh dari tetangga itu.

– Siswa SMA ABBS Solo meneliti pengaruh suara ke tanaman. Satu pot diisi biji sawi dan ditaruh di depan sekolah. Setiap hari diperdengarkan lantunan Alquran atau musik lembut. Satu pot lagi diisi biji sawi dan di taruh di belakang sekolah. Setiap hari diperdengarkan musik rock dan metal. Sepekan kemudian kedua pot tersebut di ambil dan di amati. Ternyata biji yang diperdengarkan alquran dan musik lembut tumbuh menjadi tanaman sawi yang subur, daunnya hijau segar. Sedangkan tanaman yang diperdengarkan musik rock dan metal tumbuh menjadi sawi yang kerdil dan daunnya keriting. Bahkan sebagiannya menghitam.

🌷Ayah bunda, ternyata pengaruh suara sangat luarbiasa terhadap tanaman, binatang bahkan benda. Jika pada binatang, tanaman dan benda saja sangat berpengaruh, apalagi kepada kita sebagai manusia. Tentu suara itu berpengaruh langsung kepada perkembangan psikologis dan fisik manusia, termasuk juga anak-anak kita. Jika biji sawi saja akan tumbuh menjadi sawi yang sangat subur dan segar bila diperdengarkan an suara yang lembut, apalagi anak kita? Sebaliknya jika sawi saja jika diperdengarkan suara yang kasar tumbuh menjadi di sawit yang kerdil dan keriting.. apalagi jika suara seperti itu sering didengar anak kita?

🌷Ayah bunda, suara ibu atau ayah yang kasar, nada tinggi, membentak, meremehkan anak akan menjadikan anak kita minder, lemah, mudah putus asa, dan tidak percaya diri.
Maka tahanlah diri dari suara suara yang keras kepada anak-anak kita, karena ini akan mengkerdilkan jiwa mereka. Mereka akan tumbuh sebagai manusia yang lemah dan mudah tumbang oleh tantangan.. Potensinya tidak akan keluar karena tertutupi oleh rasa minder nya.

Maka lembutkanlah suara dihadapan anak. Suara lembut kita menjadikan anak yang bahagia merasa disayangi. Tumbuh menjadi anak yang percaya diri.

Anak yang tumbuh seperti ini akan berkembang potensinya, anak yang sukses di masa depannya.
Jangan kesibukan dan kelelahan kita bekerja dijadikan alibi untuk melampiaskan emosi kepada anak.

Jangan korbankan anak karena kita lemah mengelola diri. Kasihan anak- anak kita.
Maka berikanlah masa kecil yang bahagia untuk anak-anak kita dengan memberikan suara yang lembut. Jika anak mendengar suara yang lembut dari orang tuanya anak pun akan menjadi anak yang bersikap lembut kepada orang tuanya. Anak pin bahagia.

Anak yang bahagia akan mudah belajar karena otak mudah menyerap informasi.
Detak jantung dalam kondisi santai ini dentumnya 60 sampai 80 kali per menit. Dalam kondisi seperti ini otak memasuki gelombang alfa (8-12hz) yaitu kondisi otak yang rileks namun waspada.

Kondisi otak seperti inilah yang membuat anak bisa belajar dengan optimal.

Maka sangat beruntunglah orangtua yang bisa berkata lembut dan penuh kasihsayang.
Dan sungguh rugilah orangtua yang sering membentak dan berkata keras kepada anak.
Bunda pilih yang mana?

Kepala Sekolah SDII Al Abidin Surakarta
Bunda Farida Nur’Aini